Virion menatap Velice heran, begitupun Rezzan. Mereka bertiga terus berkumpul di kamar Virion itu selama dua jam.
“Vel, kamu itu mau sampai kapan di sini? Sekarang sudah jam sepuluh, waktunya tidur!” Tegur Virion.
“Nggak ah! Aku mau begadang aja disini!” Velice masih asyik menggambar di meja belajar kakaknya. Velice tahu, di lacinya kakak selalu menyimpan senjata yang berbahaya. Ia tidak ingin meninggalkan mereka berdua.
“Kayaknya Velice ketakutan tidur sendiri tuh!” Rezzan berkomentar. “Udah Velice, nggak apa-apa! Kami kan pas di sebelah kamar kamu! Tinggal ketuk-ketuk aja nanti kalau ada apa-apa!” Pesan Rezzan ringan.
“Tau nih anak kecil!” Virion menimpali wajar. “Kamu bisik-bisik di kamar sebelah aja kakak bisa dengar! Tenang aja deh, kakak awasin kok!“
Ini bukan cara bicara kakaknya, Velice tahu. Kakaknya sedang membangun imej di depan Rezzan, tapi ia juga tidak berani terang-terangan melawan kakaknya, takut ia juga kena getahnya. Ia ingin agar tetap terlihat wajar dan seolah tidak menyadari tingkah kakaknya. Ia ingat, toh kamarnya bersebelahan, ia bisa mengawasi lewat suara-suara yang terdengar.
“Ya udah deh!” Velice mengalah, menjalankan skenarionya agar kakaknya tertipu. Ia masuk kamarnya dan segera mempertajam telinga. Inisiatif, ia meraih HP dan mengirim SMS untuk memeperingatkan Rezzan. Kalau lewat SMS, Rezzan bisa mengantisipasi tanpa ketahuan Virion bahwa targetnya itu sudah ada persiapan, itu akan menjadi serangan kejutan untuk Virion.
Rando, hati-hati! Kakak gue psikopat, pembunuh berantai! Gue serius! Lu harus bisa menghindar dengan tenang tanpa dia sadar kalau lu tahu tentang semua ini!
Sayang, akibat cuaca buruk, pesan itu tertunda pengirimannya dan Velice tak menyadarinya. Walau cemas, tubuhnya tetap protes karena kelelahan. Ia terbujuk kasurnya. Awalnya ia hanya duduk bersender di dinding, tapi lama-lama ia lalai, ia tertidur.
Rezzan telah berbaring di ‘extra bed’nya, hampir tertidur, kesadarannya sudah diawang-awang ketika Virion membangunkannya.
“Rezzan, kamu dengar itu?” Tanya Virion, wajahnya terlihat waspada.
“Apa?” Rezzan heran, tapi demi menghargai kakak Velice, ia bangun dan merespons dengan ikut mempertajam telinga.
“Tadi saya dengar ada suara berisik! Mungkin maling!” Virion bangkit dari kasur, lalu berjalan keluar kamar dengan tatapan curiga.
Walau Rezzan tidak mendengar apapun, ia tetap menghargai kecemasan Virion. Mungkin benar yang dikatakannya. Rezzan pun mengikutinya keluar.
“Tadi saya dengar suaranya dari atas!” Ungkap Virion.
“Atap?“ Tanya Rezzan.
“Ada tangga menuju kesana, bahaya jika ada yang menyusup lewat sana!“ Ucap Virion.
Rezzan mengikuti langkah Virion ke atas atap. Di sana yang ada hanya dataran tanpa atap, dari ketinggian itu mereka bisa melihat jauh ke jalanan di bawahnya. “Gawat, mereka kabur kesana! Cepat kita kejar!” Virion turun tangga dengan terburu buru. Rezzan yang masih berpikiran positif mengikuti saja tindakan Virion walau tidak melihat maling yang disebut-sebut itu. Ia pikir benar ada maling yang tadi sempat menyelundup ke tempat itu. Rezzan berlari dibawah derasnya hujan dan kelamnya malam, mengikuti langkah pemuda di depannya yang terburu-buru. Ia melewati jalan perumahan yang lengang, menurut info Virion maling itu mengarah ke sana.
Velice bangun lagi, tersadar kalau sepuluh menit yang dilalaikannya itu bisa berarti banyak untuk kakaknya. Di kamar sebelah tidak ada suara apapun, Velice cemas. Ia segera membuka pintu kamar kakaknya, kosong.
Gawat…dibawa kemana Rando oleh kakak? Ia panik. Namun kemudian ia sadar, saat seperti ini ia membutuhkan ketenangan diri.
Tenang! Aku harus pikir dengan logika, kalau aku jadi kakak, kemana aku akan pergi! Saat memfokuskan konsentrasi, Velice ingat kebiasaan kakaknya. Pertama, kakak nggak suka membunuh di tempat tertutup! Kakak pasti akan mencari tanah lapang terbuka. Ia akan mencari yang pijakannya tanah, lebih mudah menyembunyikan bekas-bekas pembunuhannya jika ada tanah. Kedua, kakak suka membunuh dalam gelap dan tempat yang pasti tidak pernah dilalui orang. Tempat tersembunyi dan tidak bisa dilihat oleh keramaian. Dan ketiga…kakak tidak suka membunuh saat hujan begini. Tidak leluasa baginya, bukti-bukti pembunuhan bisa tercecer tanpa terkontrol karena cucuran air hujan, darah misalnya. Berarti… Velice menemukan kejanggalan dengan kesimpulannya. Tempat terbuka yang pijakannya tanah, tapi teduh dari air hujan…gelap dan tidak pernah dilewati…jarang sekali ada tempat seperti itu! Satu-satunya tempat seperti itu di sekitar sini… Velice mengingat-ingat. Seingatnya ada jembatan besar di depan perumahannya sana. Di bawah jembatan itu mengalir sungai yang lebarnya sedang, sungai itu menyisakan tanah yang menjorok ke bawah. Di samping kanan kiri sungai yang menjorok itu terdapat permukaan tanah yang jarang dilewati orang satupun, padahal ada anak tangga kecil dari tanah yang menurun menuju ke sana. Tempat itu memang tidak awam, mungkin juga cuma kakak dan Velice yang mengetahuinya. Tapi dari jembatan, lahan di kanan-kiri sungai dapat terlihat, kakaknya tidak mungkin mau mengambil resiko itu walaupun di cuaca seperti ini. Lagipula kakaknya sangat berhati-hati, dan tempat teduh dan tersembunyi itu… Bagaimana kalau kolong jembatan?!? Jembatan itu besar, menyisakan kolong yang lahan tepi sungainya cukup luas untuk bermain. Velice mengikuti kata hatinya untuk berlari ke tempat itu. Ia membawa salah satu pisau lipat kakaknya sebagai senjata. Halilintar dan derasnya hujan yang selama ini ditakutinya kini tidak diperdulikannya, dilaluinya begitu saja di jalanan yang begitu lengang ini.
Rezzan melihat sekeliling. Ia heran, kenapa ia mengejar sampai ke tempat ini ?!? Di kolong jembatan besar yang teduh namun sangat gelap. “Benar mas, tadi malingnya berlari ke sini?” Ragu Rezzan. HPnya berdering sejak tadi, sekarang ia ada kesempatan untuk mengeceknya. Ada pesan yang langsung dibacanya. Walau kaget, ia berusaha bersikap wajar. Kenapa baru sekarang sih? Batinnya menyesal. Ia meremas kantung celananya, untung ia sedang membawanya di kantungnya. Virion sekejap berbalik, menatap Rezzan aneh.
“Kenapa mas?” Tanya Rezzan dengan nada lugu.Verion mendekatinya mencurigakan. Rezzan menjadi takut, ikut mundur untuk menjaga jarak. “Stop!“ Rezzan mengumpulkan keberaniannya. “Mas mau apa? Mas pikir saya tidak punya senjata?“ Rezzan mencoba mengejutkan Virion, setidaknya membuatnya berfikir dua kali untuk mendekatinya. Ia memperlihatkan pisau lipatnya yang kebetulan sempat dibawanya karena tadi rusuh soal maling.
“Tapi apa kamu berani menancapkan alat itu ke badan saya?” Tantang Virion, masih mendekat tanpa ragu. “Taruhan, kalaupun kamu bisa melakukannya, kamu tidak lebih terampil dari saya dalam hal itu! Saya telah lama belajar dari pengalaman, sedangkan kamu bisa apa, anak ingusan?” Virion terlihat optimis. “Saya pasti bisa lebih cepat dari kamu!“
Rezzan sadar kekurangannya itu. Virion makin dekat.
“JANGAN KAK!” Teriak suara gadis mengagetkan mereka. Terlihat bayang-bayang hitam itu mendekati mereka. “Kan sudah aku bilang! Jangan sakiti Rezzan kak! Aku yang akan kesusahan!” Ucap gadis itu, berhati-hati dengan ucapannya. Bagaimanapun baiknya Virion kepadanya, ia harus berhati-hati dengan psikopat, jangan memancing emosinya. Dalam hati sebetulnya ia panik, tapi ekspresinya datar agar tidak menyinggung kakaknya.
“Maaf Vel! Kali ini aku nggak bisa menuruti perintahmu! Aku terlanjur kesal dengan pemuda ini!“ Ujar Virion.
Velice mengacungkan pisaunya sambil mendekati mereka berdua dengan tenang, takut dengan reaksi kakaknya.“Kak, jangan pikir aku nggak bisa senekat kakak!” Peringat Velice putus asa. “Jangan paksa aku untuk melakukan ini ke kakak! Aku mohon, jauhi Rezzan!”
Sedangkan Rezzan bergumam tanpa suara, terbaca gerakan mulutnya oleh Velice. Velice tolong gue!
Tenang, tapi jangan lu apa-apain kakak gue! Balas Velice dengan gerakan mulut tanpa suara, untung kakaknya saat itu sedang membelakanginya. Jatuhkan pisaulu! Cepat! Suruh Velice, khawatir Rezzan kalap melukai kakaknya. Ia tidak rela kakaknya terluka oleh Rezzan sekalipun, walaupun itu hanya upaya menyelamatkan diri. Rezzan masih bergeming.
“Silakan Velice! Kakak nggak keberatan kalau kamu yang melakukannya! Silakan saja, tapi kakak akan tetap membunuh teman kamu ini, kakak masih punya waktu melakukannya walau kamu sudah menusuk kakak!” Sepertinya Virion sudah menebak bahwa Velice tidak akan mampu melakukan itu terhadapnya.
Rezzan berisyarat mata dengan Velice. Velice memaksa Rezzan melepaskan pisaunya, walau awalnya tidak mau, akhirnya demi Velice ia membuangnya juga. Velice sangat tidak ingin keduanya terluka, ia serba salah. Ia bisa saja nekat melukai kakaknya tapi benar kata kakaknya, ia pasti masih bisa sekalian membunuh Rezzan.
Ia sangat cinta Virion, kakaknya, ia juga amat sayang Rezzan…seandainya ia bisa menyelamatkan mereka berdua, tanpa kehilangan salah seorang diantaranya.
Seandainya pun ada yang harus ia korbankan…
Tunggu…Ia masih bisa menyelamatkan keduanya, walau ‘ada’ yang harus dikorbankan. Velice pikir tidak apa, ia sudah lama ingin memberi pelajaran ke kakaknya agar kapok membunuh. Bagaimana jika kakaknya merasakan sakitnya jika yang terbunuh itu seseorang yang paling ia cintai!?!? Akankah ia kapok membunuh? Hmm…Besar kemungkinan.
Tuhan, kumohon semoga ini yang terbaik! Selamatkanlah Rezzan, selamatkan juga Virion! Terimalah pengorbananku ini sebagai kebaikan, demi keselamatan manusia lain yang mungkin kakakku akan bunuh, demi nyawa-nyawa yang telah kakakku renggut. Maaf Tuhan, aku tidak bisa menyakiti salah satu dari mereka, aku pengecut, takut kehilangan mereka! Aku hanya bisa…mengorbankan diriku sendiri! Velice membulatkan tekad dalam hatinya.
“Baik, kak…aku sudah lama menunggu saat ini! Aku penasaran, apa setelah ini kakak masih bisa membunuh orang!” Tanpa ragu Velice menancapkan pisau yang ia pegang ke pergelangan tangannya sendiri.
“VELICE JANGAN!“ Mata Rezzan membelalak ngeri, mengundang penasaran Virion untuk ikut menengok Velice di belakangnya.
Kontan pupil mata Virion membesar, terpaku shock melihat darah mengucur segar dari pergelangan tangan Velice. “VELICE!“ Ia mendekat dengan panik.
“Kak, bagaimana melihat orang yang disayangi mati terbunuh? Sakit kan?” Velice berlutut lemas, Virion menopangnya. Pelahan air mata menetes di pipi Virion. Tak urung Velice terkejut, tidak pernah ia lihat Virion menangis sebelumnya, bahkan di masa kejadian tragis itu. “Rezzan, lu nggak apa-apa kan?” Velice puas melihat Rezzan yang juga panik mendekatinya. “Syukurlah!” Ucap Velice. “Sudah, cepat kabur sana! Jangan pedulikan gue!” Suruh Velice pasrah. Walau kalut dan merasa bersalah, Rezzan berlari juga meninggalkan tempat itu. Tapi sebetulnya bukan karena ia pengecut atau tidak peduli keselamatan Velice, justru ia akan mengambil inisiatif yang dapat menyelamatkan gadis itu.
“Maafkan kakak Velice! Kakak mohon, kamu harus bertahan!” Virion merajuk mirip anak kecil yang kehilangan ibunya. Benar-benar baru kali ini Velice melihat kakaknya menangis heboh seperti anak kecil. Dengan gerakan kalut dan tangan gemetar, Virion merobek segurat kain dari pakaiannya, lalu mengikatkannya kencang di luka Velice, berharap itu dapat banyak membantu.
“Rasakan ini kak, pahami rasa sakit ini! Inilah perasaan keluarga orang yang kakak bunuh! Sudah lama aku kesal dengan kebiasaan kakak itu! Apa kakak nggak memikirkan, perasaan kakak korban, perasaan ibunya, ayahnya?” Velice masih belum puas memberi pelajaran ke kakaknya, bibir kecilnya mulai bergetar dan matanya semakin sayu.
“Maaf Velice, maaf! Kakak nggak akan ngebunuh orang lagi! Tapi kakak mohon, kamu harus kuat! Kamu jangan banyak bicara dulu!” Virion merasa sangat pedih, kali itu ia benar benar menyesal. Ia pikir semua kenekatan Velice ini pasti karenanya, seorang kakak yang tak patut dibanggakan. Ia sudah kena karmanya.
“Kakak janji, nggak akan sakiti sedikitpun Rezzan ataupun orang lain setelah ini?” Velice meminta keyakinan dari kakaknya.
“Kakak janji, kakak nggak perduli lagi dengan dorongan sial itu! Yang penting kamu harus bertahan, kakak cinta kamu, kakak mohon jangan tinggalin kakak! Kakak menyesal Velice, maafkan kakak!” Virion benar-benar merasa bodoh. Ia baru tahu adiknya begitu memendam kesal padanya karena penyakit bodohnya itu, kelainan yang bodohnya tidak pernah ia coba lawan, walaupun itu demi adiknya sendiri. Akhirnya ia malah mengorbankan adiknya sendiri.
“Aku rela menahan perasaan tertekan itu selama tinggal bersama kakak! Aku benci kelainan itu, tapi aku nggak bisa benci kakak! Pengorbananku itu lebih sulit dan lebih besar dari yang kakak bayangkan!” Ungkap Velice. “Itulah yang membuatku muram setiap hari kak! Tapi…aku sekaligus bahagia tinggal sama kakak…” Virion hanya sesungukan, menunggu lanjutan kalimat adiknya yang tak kunjung puas berceloteh walau lemah. “Karena aku sadar….aku…nggak bisa hidup tanpa kakak! Setiap hari yang…aku lewati bersama kakak itu pengorbananku…demi terus bersama kakak, walau…harus menahan…perasaan muak itu!” Velice mulai tersengal, susah bicara. Virion mulai terbuka matanya, baru tahu perasaan yang selama ini dirasakan adiknya, penderitaan tinggal bersamanya. “Jika kakak…terobsesi dengan nyawa manusia…maka aku…sebenarnya…terobsesi…dengan…kakak! Tahu…kenapa…kak?” Virion semakin kencang menangis mendengar curahan hati adiknya itu. “Kakak…orang yang paling…aku cintai di dunia!” Ucap Velice lemas, di pandangannya wajah kakaknya semakin kabur. Kabut gelap menutupi pandangannya. “Sudah mulai gelap kak! Ya gelap…bagiku…kakak seperti gelap! Menyeramkan tapi…sekaligus menenangkan….melindungi walau…tak menyenangkan! Aku suka…gelap…karena…dalam gelap…aku…terlindung!” Ucap Velice lebih seperti berbisik mengigau, terpatah-patah. Mata lentiknya mulai menutup, seiring teriakan Virion yang semakin kalut.
“VELIIIICEE! BANGUUUN! KAKAK MENYESAAL! MAAFKAN KAKAK YANG SELAMA INI TERLALU LEMAH SAMPAI MENGORBANKAN KAMU! VELIICE, KAKAK CINTA KAMU! KAKAK MOHON KAMU HARUS BERTAHAN!” Dengan kalut Virion membopong adiknya meninggalkan tempat itu, membawanya naik ke jalan raya di tengah hujan yang masih mengguyur. Bermaksud mencari tumpangan walau tak satupun lewat kawasan sepi itu, hingga sepasang lampu depan mobil memberinya harapan. Taksi itu ternyata memiliki penumpang, tapi penumpang di depan menongolkan kepalanya dan segera memerintah.
“Cepat naik!” Rezzan memberi angin harapan.