Pertanyaan di Benak Lyra

Posted: under Karya asli nih!.

Lyra menatap langit senja yang kuning menawan, bertanya-tanya dalam hati tentang arti dari keberadaannya di dunia ini. Lyra menghembuskan nafas, lalu kembali masuk ke dalam gubuk mungilnya, menghentikan sejenak perenungannya. Ia membuat segelas teh manis hangat untuk ibunya tercinta. Ibunya sebentar lagi akan pulang dari kerjanya, beliau pasti akan sangat lelah. Ditaruhnya teh manis itu di meja di depan sebuah bangku kusam, bangku bersantai khusus ibunya. Ia agak tersentak begitu mendengar suara pintu di buka.

“Gue pulang, mana teh gue?” Ibunya merangsek masuk, terlihat sempoyongan dan sangat lelah. Baju seksinya tak dapat menyembunyikan umurnya yang makin menua. Ketika melihat segelas teh, wanita paruh baya itu langsung menyeruputnya tak sabar.

“Bu, ajarin Wika bikin cerita!” Gadis kecil itu menghampiri ibunya dan menyodorkan sebuah buku tulis. Ialah adik Lyra satu-satunya, kini masih SD di sekolah gratis.

“Noh sama kakaklu aja!” Dengan malas ibunya mengoper tugas ke Lyra.

Lyra dengan pesimis menatap buku tulis itu. Terlihat sebait tulisan yang begitu rapi, pasti guru Wika yang menulisnya. Namun di pandangan Lyra tulisan itu teracak-acak, tak terdefinisi artinya. Ia tahu mana a, b hingga z, tapi jika huruf-huruf itu sudah berbaris, berderet membentuk kata atau kalimat, otaknya tak dapat merepresentasikan maknanya. Lyra menggeleng lemas.

“Ah bego lu!” Ibunya menoyor kepala Lyra dengan kesal. “Buat apa lu susah-susah gue gedein! Lu bukannya banggain gue malah jadi aib! Lagian susah banget sih lu gue gugurin dulu! Sekarang buat apa lu hidup?” Wanita berpakaian seksi itu terus menghujat Lyra. Kata-kata itu memberi sabetan di hati Lyra, membuat air matanya mengalir. “Dasar anak bego! Bingung gue, kenapa gue harus punya anak kayak loe!”

Malam mengambil alih langit, menguasainya dengan berjuta bintang memaku. Nyanyian jangkrik sahut menyahut bergema, terdengar hingga ke dalam gubuk mungil Lyra. Saat semua sudah terlelap tidur, ia masih menangis, teringat kenangan buruknya di masa lalu. Saat ia dikucilkan di SD karena tak pernah mampu menulis dan membaca. Saat ibunya dengan penuh rasa malu menghadiri panggilan gurunya karena kelainannya itu. Saat akhirnya ibunya merasa tak ada gunanya menyekolahkannya.

Lyra menyibak selimutnya, sebelum ditinggalkannya ranjang kumalnya, ia melirik dan mencium kening ibunya yang tidur di sebelahnya penuh kasih. Ia keluar untuk memandang bintang, berharap dapat menenangkan hatinya.

Hatinya memang sakit mendengar cacian ibunya setiap hari. Tapi demi Tuhan, bukan itu yang Lyra permasalahkan. Ia justru merasa bersalah pada ibunya, menyesali diri yang terlanjur terlahir bodoh dan mengecewakan ibunya. Seandainya bisa, ia ingin membuat ibunya tersenyum bangga terhadapnya, membuktikan bahwa usaha ibunya membesarkannya tidak sia-sia. Sekarang yang terjadi sebaliknya, ibunya malah tampak menyesal melahirkannya. Sekarang pertanyaan itu kembali muncul di benaknya, mengapa ia terlahir kedunia? Mengapa Tuhan tak membiarkannya mati ketika ibunya berusaha menggugurkannya?

Surya begitu terik menyorot bumi, tubuh kecil Wika berlari semangat menuju gubuknya. Di tangannya terlihat buku tulis usang yang diperlihatkan kemarin. Begitu melihat ibu dan kakaknya di rumah, ia langsung memperlihatkan sebuah halaman kepada keduanya.

“Bu, kak, aku dapet nilai sepuluh! Kata bu guru ceritaku paling bagus!” Pamer Wika bangga.

Ibunya yang awalnya asyik masyuk memoles muka, segera mengamati buku itu. “Anak ibu emang pinter!” Spontan Ibu memeluk Wika penuh kasih dan rasa bangga yang membuncah. “Wika nanti gedenya pasti jadi orang sukses! Wika pasti bisa banggain ibu, ngerubah hidup kita jadi lebih enak! Ya kan Wika? Wika kan pinter!” Wanita paruh baya itu memotivasi dengan optimis. “Nggak kayak kakaklu!” Lalu ibu melirik sinis Lyra. “Minta ajarin noh dari adiklu!” Sindirnya tajam.

Ibunya kembali menatap Wika penuh sayang. “Wika, ibu berangkat manggung dulu ya! Nanti pas pulang dangdutan, ibu janji deh bawain bakpau kesukaan Wika!” Janji ibunya itu membuat Wika kecil sumringah dan girang tak terkira.

Lyra yang dari awal sudah merasa iri dengan pelukan kasih ibunya terhadap adiknya, makin tersakiti. Ia tidak pernah dipeluk mesra, dianggap berharga dan dibangga-banggakan seperti adiknya. Ia bahkan tidak pernah dijanjikan hadiah berupa makanan kesukaannya seperti yang ibunya janjikan pada Wika. Ia selalu dipersalahkan. Lalu kembali pertanyaan itu muncul di benaknya. Mengapa Tuhan membiarkannya hidup hingga kini? Apa tujuannya ia dibiarkan hidup di dunia?

Lyra menikmati hembusan angin pagi, duduk menunggu seseorang di rerumputan hijau, dinaungi oleh gumulan awan tebal gemuk diatasnya.

“Kamu sudah disini?” Seorang pemuda mendekatinya, umurnya tidak jauh berbeda dari Lyra.

“Aku nggak sabar ngelanjutin pelajaran yang kemarin!” Lyra menoleh dan gembira menyadari pemuda itu membawa barang-barang yang disukainya. Kanvas berukuran sedang, seperangkat cat minyak, kuas, dan lain-lain.

“Kamu memang berbakat! Tapi yang lebih mengagumkan, kamu bersemangat, itu lebih penting!” Pemuda itu memasang tatakan kanvas dan tempat duduk lipat yang dibawanya. “Baiklah, sekarang mau melukis apa?”

“Taman!” Jawab Lyra. “Kalau aku bisa membangunkan rumah untuk ibuku suatu hari nanti, maka aku akan buat tamannya seperti bayanganku ini. Taman yang berlimpah bunga dan tanaman-tanaman indah bagai dinegeri peri!”

Pemuda itu tersenyum. “Silakan mulai!” Ia mempersilakan Lyra duduk di bangkunya. Lyra mulai mencari warna yang ia suka dan menorehkannya di kanvas, merubah putihnya menjadi bertabur warna. Dan seperti biasa, hasilnya selalu mengundang decak kagum pemuda itu. Padahal pemuda itu mahasiswa seni di sebuah universitas yang juga berbasis seni, namun ia merasa kalah dengan kreatifitas Lyra. Ia masih perlu pengajar untuk dapat mengajarkannya melukis dengan indah. Namun Lyra bagai mempunyai bakat alam, padahal Lyra tak mendapat pengajaran formal dari siapapun, namun ia bisa melukis dengan penuh estetika dan bernilai artistik tinggi.

Pemuda itu merasa beruntung bertemu Lyra, rasanya bagai menemukan gumpalan batu permata indah yang tersisih diantara batu-batu kerikil hitam. Awal perkenalan mereka bermula ketika pemuda itu melukis di lapangan itu, mencari inspirasi untuk tugas rutinnya melukis. Saat asyik melukis datang seorang gadis, Lyra, memperhatikannya bekerja.

“Ini apa?” Tanya Lyra menunjuk kanvas yang lebih kecil tercecer di rerumputan.

“Itu kanvas, untuk melukis!” Sahut pemuda itu cuek, masih berkonsentrasi dengan lukisannya.

“Kok nggak dipakai?” Lyra kembali bertanya.

“Kanvas itu terlalu kecil buatku! Aku nggak perlu!” Pemuda itu menjawab, menunjukkan kanvas besar yang sedang dikerjakannya.

“Boleh aku pakai?” Lyra meminta izin, disambut anggukan malas dari pemuda tersebut. Dengan modal cat minyak pinjaman, ia mulai melukiskan imajinasinya di kanvas itu. Seselesainya Lyra, pemuda itu tercengang melihat karya indahnya.      Pemuda itu terbangun dari kenangannya, menyadari Lyra sudah merampungkan lukisannya. Tergambar suasana sebuah taman artistik dengan air mancur klasik dan berbagai tanaman bunga mengitarinya.

“Kamu nggak pulang? Apa nggak ditunggu di rumah?” Pemuda itu memperlihatkan Lyra jam tangannya, membuat Lyra terbelalak, tersadar akan waktu.

Lyra berlari terburu-buru, ia terlalu asyik melukis hingga lupa waktu. Adiknya pasti sudah pulang sekolah sejak tadi, sedangkan rumah ia tinggal kosong terkunci karena Ibu akan lembur hingga malam. Karena kuncinya ia bawa, ia khawatir adiknya lama menunggu.

Saat sampai di depan gubuknya ia melihat adiknya duduk menelungkupkan kepala, bersandar ke pintu rumah. Tampaknya ia sudah lama menunggunya disana, rasa kasihan terpanggil di hati Lyra. Ia merasa sangat bersalah, ia mendekati adiknya dan menggoncangkannya, namun tubuh adiknya malah terkulai lemas. Ia baru sadar suhu tubuh adiknya panas, Wika pingsan, bukan tertidur. Ia menggendongnya dan membawanya terburu-buru ke puskesmas. Beberapa tetangga yang melihatnya ikut mengantarnya cemas.

Ibunya datang ke puskesmas beberapa saat kemudian, salah seorang tetangganya pasti telah menginformasikan bahwa Wika dibawa ke puskesmas. Ibunya langsung menemui Lyra dengan tatapan meminta penjelasan.

“Maap bu, Lyra…Lyra yang salah! Lyra telat pulang buat ngebuka kunci rumah, Wika udah nungguin lama di luar jadi…” Lyra tergagap menjelaskan, disambut dengan tamparan kasar di pipinya.

“Lu emang anak gue yang nggak berguna! Ngejagain adiklu aja lu nggak bisa!” Wanita itu berkata geram. “Wika itu anak kesayangan gue, harapan gue satu-satunya! Dia pinter, nggak kayaklu, nggak bisa diharapin!” Wanita itu mulai terbakar emosi.

Wanita yang masih mengenakan busana pentas itu memasuki bilik perawatan Wika. Wika masih belum terbangun dari pingsan. Menurut dokter ia pingsan karena dehidrasi, mungkin karena lama menunggu di luar rumah.

“Gue udah tahan-tahanin diri ngadepin kebegoanlu, tapi kali ini lu udah kebangetan! Bahkan nyawa adiklu sampe terancam begini karena kebegoanlu!” Hardik Ibunya ke Lyra. “Gue nggak pernah ngarep punya anak sebego lu! Yang gue butuhin itu Wika, cuma Wika! Gue nggak butuh lu! Andai aja lu nggak pernah gue lahirin, lu selalu bikin susah hidup gue! Pergi lu sana, capek gue ngeladeninlu!”

Lyra tersentak, tak menyangka akan menghadapi kemarahan ibunya yang sebesar ini. Hatinya teriris, terluka. Napasnya sesak tersedak-sedak tangisannya. Ia tak dapat menahan gemuruh sesak dadanya, ia berlari keluar meninggalkan keluarganya, meninggalkan dimensi dunia dan hidupnya selama ini. Dimensi keluarga yang selalu dihadapinya setiap hari harus ia tinggalkan. Dan kini semakin bergema pertanyaan itu di benaknya. Untuk apa ia dilahirkan ke dunia dan dibiarkan hidup hingga kini, bahkan walau ibunya telah berusaha untuk menggugurkannya? Apakah hanya untuk menjadi anak bodoh yang memalukan?

Seorang pemuda mendatangi puskesmas dengan cemas, membawa beberapa bungkusan berbentuk papan persegi. Ia menjumpai Wika dan ibunya disana, ia sudah mengenalinya. Ia sempat kaget ketika mendatangi rumah Lyra tadi, menurut informasi tetangganya, keluarga itu sibuk mengurus Wika yang sakit.

“Maaf bu, Lyranya dimana ya?” Tanya pemuda itu sopan. “Tadi saya ke rumah ibu kok nggak ada orang, katanya semua pergi ke puskesmas!”

“Siapa kamu?” Ibu itu menatap heran pemuda itu.

“Saya…Ion, teman sekaligus pengajarnya lukisnya.” Aku pemuda itu.

“Buat apa kamu nyari anak nggak berguna itu?” Sinis wanita paruh baya itu.

“Nggak berguna?” Ion terkejut mendengar kata itu terucap dari mulut seorang ibu.

“Anak itu nggak bisa menulis, membaca, bahkan kalah sama adiknya! Nyari duit nggak bisa, disekolahin percuma, cuma jadi pengangguran aja! Malu-maluin! Dan sekarang ia bahkan menyebabkan adiknya begini!” Jelas ibu itu. “Anak bodoh!”

“Bodoh?” Kembali Ion mengulang dengan heran ucapan ibu itu. “Dia itu bukan bodoh, dia tidak bisa membaca dan menulis karena ia mengidap disleksia!”

“Disleksia?” Ibu itu balik bertanya heran.

“Kehilangan kemampuan membaca dan menulis karena kerusakan pada otak, bukan karena dia bodoh!” Ion menekankan penjelasannya. “Seharusnya ibu yang paling tahu soal itu! Anda ibunya!”

Ibu itu terhenyak mendengarkan ucapan pemuda itu. Sedikit penyesalan timbul di nuraninya. Ia merasa bersalah, kalau memang itu benar, berarti seharusnya ia yang dicap sebagai ibu yang bodoh, tidak dapat mengerti dan menerima keadaan anaknya sendiri. Jika itu penyakit, berarti selama ini ia begitu kejam merendahkan dan menghardik Lyra hanya karena keterbatasannya. Ibu itu baru sadar ia salah, ia benar-benar salah. Ia bahkan tidak tahu tentang penyakit yang diidap anaknya itu sebelum orang lain yang justru menjelaskannya.

“Dan Lyra tidak bodoh, dia justru jenius!” Ion dengan tak sabar membuka bungkusan berbentuk persegi yang dibawanya. Ternyata isinya beberapa lukisan yang begitu mempesona. Ibu itu awalnya heran melihat gelagat Ion dan tidak mengerti apa maksudnya.

“Ini semua lukisan Lyra!” Umbar Ion mantap, semakin membuat ibu itu tercengang. “Dan ini!” Ion menunjukan lukisan bergambar sebuah rumah mewah bak istana, terpoles dengan warna-warna lembut yang seakan penuh cinta. “Lukisan Lyra ini laku ditawar seharga 50 juta dalam lelang umum yang diadakan kampus saya!” Jelas Ion. “Dan ini…” Bagai kerasukan, ia meraih satu lukisan lain yang bergambar sebuah kamar mewah bergaya romawi klasik  dengan furniture berukir indah dan terlihat kokoh. “Lukisan ini bahkan berani ditawar 100 juta oleh seorang kolektor seni saat tahu pelukisnya pengidap disleksia!” Ion seolah belum puas, mengambil lagi sebuah lukisan, lukisan terakhir Lyra. “Dan ini, lukisan ini berani ditawar 200 juta dalam lelang pelukis pemula!” Ion menegaskan. “Masih banyak lukisan karyanya di galeri saya, dan saya tidak berani membayangkan harganya jika dijual! Saya kesini untuk meminta izin menjual lukisannya yang sudah laku ditawar orang ini! Hasilnya akan saya beri ke ibu!”

Ibu itu menatap semua lukisan itu takjub, apalagi mengingat nominal harganya. Ia tak percaya anaknya mampu membuat lukisan seindah dan seberharga itu. Anak yang selama ini terus dihina dan diremehkannya ternyata dapat membuat karya yang begitu berharga.

“Dan tahu maksud semua lukisan itu apa?” Ion menambahkan. “Ini adalah penggambaran semua yang ingin ia beri untuk ibu suatu hari nanti jika ia mampu!” Ion mengeja dengan jelas setiap kata dalam perkataannya. “Rumah ini adalah rumah yang ia ingin bangun untuk ibunya, beserta taman ini sebagai halamannya. Kamar yang mewah ini adalah kamar yang akan ia persembahkan untuk ibunya.” Ion lalu melirik satu bungkusan yang belum dibuka, bungkusan paling besar. “Dan ini penggambaran satu hal yang paling dirindukannya!” Jelas Ion sambil membuka bungkusan itu. Dan terpampang jelas gambar seorang ibu yang memeluk anaknya penuh sayang, yang tidak lain ialah Lyra dan ibunya. “Hanya ini, sesuatu yang ia harapkan ibu beri untuknya!”

Tak pelak mengalir deraslah air mata penyesalan di wajah wanita paruh baya itu. Bagaimanapun ia tetap seorang ibu, namun ia merasa belum pantas disebut ibu yang baik. Ia bahkan lupa kapan terakhir kali memeluk Lyra dengan penuh kasih sayang.

“Ibuu!” Panggil suara dari dalam bilik perawatan, Wika pasti sudah sadar. Ibu itu menghampiri anaknya bersama Ion. “Kok ibu nangis? Kak Lyra mana bu?”

Ibu itu mengusap air matanya, berusaha menyembunyikan kepedihannya. “Kenapa, kok Wika langsung nanyain kak Lyra?” Tanya ibu itu lembut.

“Aku lupa bilang terima kasih ke kakak bu! Sebenarnya cerita aku yang dapat nilai sepuluh itu kakak yang karang! Kakak ceritain ke aku, terus aku tulis! Ternyata cerita kakak emang bagus!” Wika berceloteh semangat. “Aku bangga sama kakak bu! Kakak pinter!”

Ibu itu terhenyak kembali, ekspresinya kini berubah menjadi kalut. Dengan panik ia berbalik, bersiap untuk pergi.

“Mau kemana bu?” Ion mencegatnya heran.

“Nyari Lyra! Anakku!” Ucap ibu itu linglung. “Aku nggak mau kehilangan dia!” Penuh bingung, ibu itu mengepak-ngepak dan langsung pergi.

Ibu itu sampai di rumahnya, disambut keheningan. Tak nampak siapapun di dalam, Lyra tak ada disana, begitupun pakaian-pakaiannya yang sekejap hilang di lemari. Ibu itu merasa kakinya lemas, ia terpekur, berlutut, merasa menyesal. Ion yang mengikutinya menabahkannya.

Ibu itu merenung di balkon, menatap langit pagi yang biru sejuk. Rumah itu megah, besar dan indah. Rumah inilah wujud karya Lyra di lukisan tersebut dan hasil dari penjualan lukisan-lukisannya. Inilah jawaban dari pertanyaan di benak Lyra selama ini, alasan kehadirannya di dunia, yang tidak lain untuk membahagiakan ibunya. Kini ibunya tidak perlu lagi menjadi penyanyi dangdut panggilan, harkat dan kehidupannya sudah terangkat berkat hasil kerja Lyra. Ibu itu menyadari kehadiran seseorang di depan pagar rumahnya.

“Eh Ion, ayo masuk nak!”

Ibu itu dan Ion duduk berdua di ruang tamu besar, dari jendela kaca besar terlihat taman indah yang dirancang Lyra di lukisannya. Mereka menerawang memandang langit, mengingat seseorang yang mereka rindukan.

“Sudah 1 tahun nggak ada kabar dari Lyra!” Ibu itu memulai pembicaraan.

“Saat langit seperti ini…biasanya Lyra sedang menunggu saya di lapangan.” Gumam Ion.

Ibu itu tersentak, “Kenapa kamu nggak cari dia aja di tempat kamu dan Lyra biasa ketemu?” Idenya.

“Sudah setiap hari bu, saya bolak balik ke tempat itu di waktu seperti ini. Dia tetap tidak muncul.” Ion menggeleng lemas. “Apa polisi sudah menemukan petunjuk keberadaannya bu?”

“Nggak! Nggak ada kabar! Polisi masih terus mencari!” Jawab ibu itu pasrah. “Dimana sebenarnya Lyra sekarang?” Ibu itu bergumam lirih.

Pertanyaan di benak Lyra sudah terjawab. Namun di suatu tempat mungkin Lyra sendiri masih terus bertanya tentang pertanyaan di benaknya itu. Kini yang tertinggal di benak orang-orang yang menyayangi Lyra adalah sebuah pertanyaan baru. “Dimana Lyra sekarang?”

Tiga tahun kemudian. Ion menatap monitor laptopnya, mengetik dan terus mengetik, itulah pekerjaan rutinnya belakangan ini. Skripsinya berkejaran dengan waktu deadline, Ion semakin dekat menuju ke impian besarnya. Skripsinya terinspirasi dari seorang Lyra, anak miskin biasa yang perlahan terungkap memiliki bakat yang luar biasa. Saat sedang berkonsentrasi, dering HP mengganggunya. Ia meraih HPnya dan mengangkatnya lemas.

“Halo?”…Ia mendengar seseorang memperkenalkan diri sebagai polisi di ujung sana. Tak lama kemudian terdengar pekikan. “Apa? Lyra sudah diketahui keberadaannya?” Ion tersenyum gembira. Hampir melonjak kalau saja ia tak ingat umur.

Ia menghubungi bu Aina, ibunda Lyra. “Bu! Polisi sudah mengetahui keberadaan Aina! Mari kita jemput kesana bersama!”

Di tempat berbeda di ujung telepon, ibu itu hanya tersenyum simpul. Ekspresi wajahnya bertambah bijak sekarang. “Nggak nak, kamu sendiri aja! Biar ibu disini saja!”

Ion tercekat “Tapi…”

“Biar ibu yang siapkan penyambutan untuknya!” Lanjut ibu itu menenangkan. Ion segera paham dan ikut tersenyum.

Ia mendatangi tempat yang disebut oleh pihak kepolisian, tempat dimana seseorang yang diduga Lyra sering terlihat. Tempat itu adalah…

“Sekolah dasar?!?!” Heran Ion. Ini sekolah swasta terkemuka. Entah apa benar penyelidikan polisi yang mengaku melihat Lyra disini.

Sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Ada beberapa siswa yang sudah berhamburan pulang. Namun masih banyak juga yang tinggal di sekolah, menjalani ekskul atau aktifitas lain.

Ion menyusuri koridor sekolah ragu. Memperhatikan satu demi satu ruangan dari jendela dengan teliti. Hingga dilihatnya sebuah ruangan berisi anak-anak dengan buku gambarnya. Seorang pengajar memandu di depan, wanita berbusana rapi dan elegan. Begitu gemulai gayanya mengajar menggambar, ia kenal sosok itu, walau sekarang agak pangling dengan penampilannya yang semakin cantik dan elegan.

“Lyra?!” Sapa Ion tak percaya dengan penglihatannya. Selama ini ia merasa kehilangan sosok Lyra yang tak dapat diraihnya, sosok impian yang selama ini dicarinya dan diidamkannya. Ia pungguk dan Lyra bulannya, dan sekarang ia merasa bagai pungguk mendapatkan bulan, tepatnya menemukan kembali bulannya.

Kini keduanya terlarut dalam nostalgia lama di lapangan rumput menghijau itu, namun kali ini tanpa kuas, tanpa kanvas. Hanya ditemani hela angin berhembus memanjakan.

“Akhirnya aku temukan kamu!” Ion memecah keheningan.

“Senang rasanya menyadari ada juga yang mencari aku!” Lyra merendah.
“Tentu saja! Semua mencari kamu! Adikmu, ibumu!” Ion menjelaskan.

Lyra tersenyum lemah, “Tapi mereka pasti lebih tenang tanpa aku! Beban mereka bisa berkurang!”

“Kamu salah Lyra!” Ion menggeleng. “Pulanglah!”

“Aku merasa sudah menemukan tempatku! Aku sudah menemukan jawaban tentang arti hidupku yang selama ini kupertanyakan!” Lyra berucap. “Di sekolah itu! Di sanalah tempat aku bisa bermanfaat bagi orang lain! Disana aku tak membebani siapapun! Disanalah aku seharusnya berada! Demi kedamaian ibu dan Wika, dan demi murid-murid yang memerlukanku!” Ia menatap mata Ion dalam, “Maaf! Aku ingin tetap menjalani hidupku seperti sekarang!”

“Tapi kalau begitu kamu menghancurkan impianku!” Ucapan Ion barusan membuat Lyra terguncang, terbelalak. “Sebelum aku mengenalmu, sejak dulu sekali, aku punya satu impian besar. Aku ingin diwisuda, meraih prestasi, dan melihat orang tuaku berada disana, mereka hadir dengan busana terbaik mereka, menatapku bangga.” Cerita Ion perlahan. “Tapi setelah kamu datang, impianku berubah.” Ion memutar bola matanya. “Well, tepatnya sih bertambah. Aku ingin diwisuda, meraih prestasi, melihat orangtuaku dan gadis yang kucintai berada disana. Mereka hadir dengan busana terbaik mereka, menatapku bangga.” Ion menatap Lyra. “Tiga bulan lagi Lyra! Tiga bulan lagi acara wisuda itu akan digelar! Impianku hampir terwujud!” Ion merogoh kantungnya, mengeluarkan kotak berbentuk hati yang indah berselimut satin merah ke arah Lyra. “Jadi maukah kau melengkapi mimpiku?” Pantulan sinar dari cincin indah yang terlihat glamour itu sungguh menggoda.

Lyra tercengang, tak berkedip. Ia tak percaya ini ditujukan padanya. Ia sebenarnya tahu Ion pemuda yang baik, terlalu baik untuknya malah. Karena itu, ia tak yakin pemuda ini akan tertarik padanya. “Ion…Kamu tampan, terpelajar…tapi seleramu buruk!” Ucap Lyra ragu.

Ion terkekeh, “Justru selera seniku sangat tinggi sampai bisa menemukan permata indah di tengah-tengah kerikil seperti kamu!”

“Aku…aku yakin kamu salah orang! Aku bodoh, bukan dari kalangan terpelajar, masa depanku tidak jelas, basic keluargaku pun tidak jelas, aku miskin. orangtuamu nggak mungkin suka denganku!” Lyra berceloteh panik.

“Justru orangtua kita sudah saling mengenal dan saling membantu! Dan…miskin kamu bilang?!” Ion terkekeh. “Kamu sudah 4 tahun menghilang, kamu sudah banyak ketinggalan informasi, sebuah sudah banyak berubah! Kamu belum tahu aja seberapa kayanya keluargamu sekarang!” Ion menikmati wajah heran gadis di depannya. “Mau bukti?” Ion menantang. “Kalau begitu pulanglah, ibumu merindukanmu, begitu juga adikmu! Mereka susah mencarimu kemana-mana selama 4 tahun ini!” Ion memohon.

“Bukannya kepergianku itu yang ibu inginkan?” Lyra tak percaya dengan kabar itu.

“Tidak sama sekali! Justru merekalah alasan kenapa kamu dilahirkan di dunia! Mereka membutuhkanmu, begitupun sebaliknya!” Ion mencoba membuka pikiran gadis itu. “Kamu sudah berhasil membuat ibumu bangga, membuat kehidupannya menjadi lebih baik, bahkan mengangkat derajatnya!” Ion menekankan ucapannya. “Semua impianmu sudah tercapai, karena itu ibumu kini menunggumu di rumah! Mempersiapkan pelukan terhangatnya untukmu!” Ion menatap dalam kedua mata bening di depannya.”Apa kamu tidak kangen dengan ibu dan adikmu?”

Mata indah Lyra yang terlanjur berkaca-kaca mulai meneteskan air mata. “Kangen banget!”

Mobil Toyota Altis itu terhenti di halaman sebuah rumah yang sangat mewah dan indah.

“Aku tidak tahu kalau rumah di lukisanku itu ternyata benar ada!” Ucap Lyra polos sambil masih mengamati rumah itu takjub. “Rumah siapa ini?”

Ion tersenyum geli, “Ini rumahmu Lyra! Inilah istanamu, ibumu dan adikmu! Tempat dimana kamu seharusnya berada.”

Dan terlihatlah sosok wanita setengah baya yang dirindukan Lyra, keluar dari pintu besar rumah dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Mempersiapkan pelukan terhangatnya. “Selamat datang Lyra, puteriku tercinta!” Ucap ibu itu menahan tangis harunya. “Maafkan ibu! Kamu sudah cukup menghukum ibu dengan meninggalkan ibu entah kemana, sekarang ibu menyesal! Maukah kamu memaafkan ibu yang bodoh ini nak?”

Dan menghamburlah Lyra ke pelukan itu. “Makasih bu! Ibu nggak perlu minta maaf!”

“Bu, aku juga mau gantian peluk kak Lyra!” Suara polos di sebelah mereka menyadarkan mereka dari keharuan. Wika kini sudah bertambah dewasa. Ia bahkan sudah menjelma menjadi seorang gadis kelas 1 SMP. Lyra hampir tak mengenalinya.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Semua wisudawan dan wisudawati telah rapi memakai baju khas wisuda dan toga. Wajah-wajah mereka tersenyum dan tertawa gembira, tak ada yang muram merana. Ion termasuk diantaranya. Ia siap menunggu namanya dipanggil di panggung untuk pengalungan medali dan pemberian ijasah. Nun jauh di bangku penonton sana dua keluarganya hadir, tentu bersama gadis yang paling dicintainya. Gadis itu dengan elegan mengenakan kebaya merah muda dan menjelma menjadi gadis teranggun di dunia, jauh melebihi Miss Universe di mata Ion. Di tangan gadis itu dan Ion, berkilau-kilau sepasang cincin serupa bertahtakan permata dan cinta.

“Kak!” Wika memanggil Lyra dengan wajah penasaran.

“Apa?” Lyra menjawab lembut.

“Katanya kak Ion Cum Laude…Cum Laude apaan sih?” Tanya Wika dengan wajah lugunya. Kedua keluarga, keluarga Lyra dan Ion, tertawa bersama.

Comments (0) Mar 12 2010

Kamus Cinta

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Cukup…

Kata yang ditiadakan di kamus manusia-manusia tamak

Cinta…

Kata yang sering disalah-artikan, dikotori dan dikambing hitamkan oleh manusia

Cari…

Kerja yang terlupa oleh manusia, hakikatnya di dunia

Cara…

Tidak dipedulikan lagi maknanya. Tak bisa lagi manusia membedakan hitam dan putihnya

Ceriakan…

Ceria berimbuhan kan. Ibadah yang paling tipis jaraknya dengan dosa…

Cerita…

Semua alur yang termuat sepanjang hidup di dunia…

Comments (0) Feb 15 2010

Selalu begitu di tiap Malam

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Selalu begitu di tiap malam

Di langit tergantung hanya satu bintang

Ku termenung sendiri di beranda, menatapi

Bercerita, berharap ia mendengar dan mengomentari

Selalu begitu di tiap malam

Menikmati hela angin dari beranda

Bernyanyi senandung sendiri, bergumam-gumam

Seolah diva di megah panggung tak terkira

Akulah duyung yang merindukan lautan

Akulah mata air yang menantikan muara

Siapa yang kunanti, tak jelas pasti

Tapi relung bergeming sepi

Hentikan sepi ini, aku tak tahan!

Selamatkanku dari menara tinggi menjulang!

Siapapun, datanglah dan genggam tanganku!

Keluarkanku dari penjara yang penuh debu!

Selalu begitu di tiap malam

Menantikan secercah keramaian

Menantikan sepercik kesegaran

Atau seseorang yang dapat kusayang

Comments (1) Feb 12 2010

Lupakan

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Ingin aku lupakan, namun telingaku masih mencari dengar suaramu

Ingin aku lupakan, namun mataku masih berlari-lari mencari sosokmu

Ingin aku lupakan, namun dalam diam masih kukagumi hangat senyummu

Namun tetap harus kulupakan…

Bagai hakim yang mengetuk palunya…

Bagai helaan nafas terakhir menuju mati…

Atau bagai burung yang mendapat kembali kemerdekaannya…

Kau yang terindah…

Namun yang terindah belum tentu yang terbaik untukku…

Aku tetap harus tutup rasa ini!

Masih panjang jalan yang menanti untuk aku tapaki…

Aku tak bisa lebih lama lagi terhenti menanti…

Kau adalah sebait nama yang terlanjur terukir dalam kenangan

Yang dengan berat hati harus kulupakan

Walau harus kuhancurkan ukiran indah itu sekaligus hatiku…

Namun kuakui, kau adalah cobaan terindah dalam hidupku…

Tuhan, buat aku amnesia seketika…hanya tentangnya…

Comments (0) Feb 08 2010

Datang dan Pergi

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Saat sesuatu datang, kita tahu bahwa sesuatu itu pun pasti akan pergi…

Silih berganti datang dan pergi mengisi hidup kita…

Hingga kita yakin keabadian tidak mungkin ada di dunia ini…

Layaknya debu yang tertiup angin, tak mampu memilih keberadaannya…

Begitupun kita sebenarnya, diombang ambingkan takdir tak tentu…

Walau garis nasib bisa diusahakan, sesuatu yang pasti akan terjadi…

Akhir pasti menanti jika awal nyata adanya…

Gelap akan mengisi setelah gemerlap terang dunia…

Sepi akan abadi setelah gaduh bercengkrama di dunia fana…

Maka sebetulnya kita hanya sedang berjalan di sebuah jalan yang pasti ujungnya…

Namun kita tak tahu kapan jalan ini akan berakhir…

Comments (0) Feb 04 2010

Sakit

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Aku merasa sedang memasuki semak belukar

Tersayat-sayat, tercakar-cakar

Rasa sakit mendekap menjalar

Aku menjerit, menggelepar

Lalu dihantam ombak tsunami

Tenggelam di dasar bagai mumi

Tak lagi tersisa tenaga, lemas

Walau sekedar menggapai nafas

Terbanting aku ke arah karang

Tajam menyilet, kembali mengerang

Terantuk kencang, kejang-kejang

Penolong cepatlah datang

Lukaku terbakar garam dan terik

Padaku mentari melotot sarkastik

Udara pun tak lagi jadi kawan

Hanya hembuskan sakit berkelanjutan

Salahkah aku bila berangan?

Tahu keadaanku sekarang? Tak berbentuk kawan!

Akankah aku menggapai terang?

Meski sudah sejauh ini aku terbuang?

Comments (0) Dec 19 2009

Puteri Hujan

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Hujan…refleksi kesenduan…siapa bilang?

Hujan…alunan kesepian…tidak juga!

Dengarlah, saat hujan justru orkestra alam menghentak-hentak

Berdetak riang menghujam bumi, ramaikan hari

Langit dihiasi untaian air tercurah ke tanah

Angin mendramatisir suasana, melayangkan uap air tak tentu arah

Aku suka wangi hujan nan sejuk tentram

Aromaterapi alami penjernih pikiran

Aku suka bias cahaya langit setelah hujan

Menyala terang penuh warna menakjubkan

Saat hujan datang aku akan menari-nari kegirangan

Maka panggil saja aku puteri hujan

Comments (0) Nov 17 2009

Pelangi…

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Aku hanya pancaran pelangi rapuh

Maka cepat sadari aku sebelum wujudku luluh

Ku ingin terangi hatimu walau hanya separuh

Namun tampaknya kau tak pernah terpengaruh

Mungkin kau lebih memilih sahabatku malam

Lebih suka menikmati taburan bintang

Kalau begitu…biarlah diriku hilang

Dan kupanggil malam agar cepat datang

Tak apa…aku bisa kembali pulang

Mungkin memang dia yang menang

Comments (0) Oct 27 2009

Giselle

Posted: under Karya asli nih!.
Tags:

Aku melayangkan pandangan ke birunya langit. Awan putih gemuk bergumul, sebagian berpendar keperakan memantulkan cahaya matahari. Dengan latar langit biru yang sedikit diselaputi serabut awan. Kulihat pemandangan di depanku, tertangkap bayangan sebuat gundukan tanah dan menetes air mataku tanpa kukehendaki, bagai gerak refleks di tubuhku. Ini langit yang sama seperti waktu itu, aku ingat jelas. Tidak mungkin aku melupakannya detilnya setitikpun. Hari ini tidak ada lagi mata bening indahnya dan tatapan jahilnya mewarnai hariku. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan hidup tanpa melihat mata indahnya bersinar nakal dan sekarang ini semua terjadi. Terbayang lagi urutan adegan yang membawaku sampai ke titik ini, hingga klimaks yang mengantarku ke tempat ini, hari ini.

”Aku jadi peran utama? Aku jadi Giselle?” Aku menatap tak percaya Bu Samina, pelatih balletku. Beliau telah memilih para pemain yang akan mementaskan lakon Giselle. Beliau sengaja mengumpulkan para muridnya di aula utama gedung untuk mengumumkannya dan ternyata aku mendapat kejutan indah.
Nina menyikutku genit. ”Maila, selamat ya! Akhirnya impianlu terkabul! Jadi juga lu nempatin peran utama setelah beribu-ribu kali gagal!”
Aku merengut. ”Jangan gitu dong lu! Nggak sebanyak itu kali!”
Nina cuma nyengir, “Eh iya, kasih tahu cowoklu gih! Manatahu kali ini dia mengakui bakat dan kehebatanlu!”
”Ligo?” Aku tertawa skeptis, “Dia aja nggak suka gue resital balet biasa Na! Apalagi ini, dipasang-pasangin sama cowok! Duh nggak mungkin deh dia bolehin, dia pasti langsung negatif thinking!”
”Coba aja kasih tahu dulu! Dia kan nggak berhak ngekang bakat dan minatlu! Sekarang kan lu dapat peran utama, kali aja dia sadar!” Nina menyarankan. “Lagian gue mulai bisa baca kenapa cowoklu kesel lu balet! Dia kelewat jealous kali!” Nina tersenyum menggodaku. “Yang jadi pasanganlu kak Andro loh, si pangeran tampan itu!”
“Jealous kek lipgloss kek nachos kek, itu kan bukan hak dia ngelarang-larang gue ngembangin bakat dan minat gue! Gue juga ngerasa kok dia diktator!” Cemberutku, mulai kesal mengingat tingkah egoisnya Ligo pacarku. “Apa emang dia bukan pacar yang baik ya?”

Gerimis mewarnai suasana, titik-titik air menempel di bagian luar kaca jendela mobil, memantulkan bias cahaya indah. Didalamnya aku hanya bisa melirik Ligo yang serius menyetir, merasa serba salah. Aku akui, bias bening cahaya yang dipendarkan berjuta tetes air itu tidak dapat mengalahkan bening indahnya bias mata Ligo yang sedang serius ini. Aku selalu jatuh cinta pada mata indahnya, lebih dalam dari lautan dan lebih berkilau daripada permata.
“Apaan sih? Dari tadi ngelirik mulu? Kalo mau ngomong-ngomong aja!” Ligo mulai curiga dengan gelagatku.
Dengan pesimistis kuberitahu, “Ligo…aku bakal ikut resital balet lagi! Kali ini aku jadi peran utama di lakon Giselle!”
“Oh, bagus dong!” Ligo menjawab dengan nada skeptis. “Peran cowoknya siapa?” Seringaian meledeknya itu yang aku tidak bisa terima. Aku benar-benar kesal sekarang, pacar yang baik seharusnya ikut senang, bahkan bangga kan kalau bakatku mulai berkembang dan diakui.
“Tuh kan! Kamu kok gitu sih! Dukung kek! Pacar apaan tuh kayak gitu! Harusnya kamu itu ikut senang!” Aku menuntut. Aku kecewa dengan tanggapannya, aku mulai merasa Ligo bukan pacar yang baik untukku.
“Harus ya?” Celotehnya cuek sambil masih terus memandang ke depan. “Kamu kan tahu aku nggak suka kamu balet! Tapi kamu nggak pernah peduli omongan aku kan?”
“Kamu yang nggak pernah peduli perasaan aku!” Balasku tegas. “Gimana aku mau nurut, kamu suruh aku keluar dari kursus balet, hal yang paling aku sukai! Kamu nggak peduli kan tentang bakatku? Minatku? Padahal aku sudah jatuh cinta pada balet sejak aku belum kenal kamu, asal kamu tau aja!” Celotehku pongah, merasa menang. “Ini aku kasih tiket resitalnya! Pokoknya kamu harus datang, jangan kayak kemarin-kemarin!” Pesanku galak. “Kalau nggak, KITA PUTUS!” Imbuhku, berniat menguji seberapa dalam cintanya padaku. Kebetulan saat itu kami sudah mencapai gerbang kampus, aku memaksa turun dengan sikap ngambek.

Aku memperhatikan pergeseran jarum waktu yang seolah menyeret lambat di jam dinding kamarku. Hari inilah aku harus mengeluarkan performaku yang sebaik-baiknya. Kemarin-kemarin aku sudah mempersiapkan diri, melulur tubuh, memfacial wajah, hanya untuk hari ini. Pada pukul sebelas nanti kami akan mementaskan lakon Giselle itu dan aku harus berada di lokasi pukul setengah delapan untuk persiapan. Dan sekarang aku sudah benar-benar siap untuk berangkat, padahal baru pukul setengah tujuh, orang gila mana yang sudah akan tiba dilokasi jika aku berangkat sekarang? Ah aku terlalu antusias! Selagi sibuk menunggu waktu cepat berjalan kudengar suara mobil yang kukenal. Aku segera menghampiri jendela kamarku penasaran.
“Ligo? Ngapain dia kesini?”

Aku diseret paksa, bagai tawanan. Aku dihempaskan ke kursi depan mobil dan Ligo langsung menguncinya.
“Aku mau ajak kamu bersenang-senang hari ini!” Ujarnya sambil menyeringai, ia mulai menyetir.
”Ligo, kamu apa-apaan sih? Hari ini aku resital tau!” Aku mengingatkan cemas.
Ligo terus menyetir mantap, ”Masa bodo dengan resital kamu! Aku pingin mengajak kamu ke apartemenku! Kamu akan suka disana, kamu bisa berenang gratis sepuasnya, menikmati pemandangannya yang indah, fasilitasnya yang lengkap! Kamu suka kan?”
“Kamu mau coba menggagalkan jalannya pentas ini ya?” Curigaku. ”Kamu segitu nggak sukanya kalau aku balet?” Aku menatapnya sinis dan ia terus memandang lurus ke depan dengan pandangan optimis yang mantap, mengunci mulutnya . ”Aku nggak nyangka kamu seegois ini!” Ia tetap tak memperdulikanku, wajahnya masih bersinar ceria, aku mulai kesal dan memantapkan suara hatiku. “Kita putus!”
“Apa?”Barulah Ligo tersentak dan menoleh padaku. “Tapi kamu harus tunggu sampai…”
“Balet itu sudah jadi bagian dari diriku! Jadi kalau kamu nggak bisa terima baletku, berarti kamu nggak bisa terima aku apa adanya!” Aku meledak, memuncratkan omelanku. Ligo jelas sekali terlihat terluka. ”Dan rencana kamu ini…jelas sekali memperlihatkan keegoisan kamu! Hebat sekali kamu berniat membatalkan pentas yang sudah kami persiapkan ini! Kamu pasti tidak memikirkan kan jerih payah kami yang mempersiapkannya? Banyak orang yang terlibat di dalamnya dan menggantungkan harapan pada pentas ini! Nggak pernah terfikir kan? Karena kamu cuma peduli diri kamu sendiri!” Bentakku emosi, tak terasa air mataku menetes. Ternyata emosiku benar-benar meledak kali ini. Ligo sepertinya mulai stress dan hilang konsentrasinya, ia mulai bingung antara memotong celotehanku dengan mengatur laju mobil. ”LIGO, AWASSS!” Aku terhenyak melihat sosok truk di depan, siap menghempas kami berdua dalam mobil.
“BRAAAAAK!” Aku ingat suara berdebum kencang itu, kaca-kaca yang pecah berpencar menjadi puing, kedua mataku terasa sakit sebelum semua akhirnya berubah gelap.

Kepalaku pening, aku mulai ingat tadi Ligo sempat membanting kemudi hingga mobil terjungkang jatuh ke bahu jalan tol yang rimbun menurun. Aku sendiri tidak yakin aku sudah sadar karena semua masih gelap, tapi aku dapat mendengar suara sekitar.
“Ligo! Aku takut…kamu dimana?” Lirihku lemah.
“Urrgh!” Mulai terdengar suara lemahnya. ”K..kamu nggak apa-apa Maila?” Terasa sentuhannya membelai dahiku lembut, aku mulai tenang menyadari aku tak sendiri. ”Tenang ya…aku disini!”
”Gelap!” Keluhku. Aku merasa tubuhku terangkat, mungkin ia membopongku. Pasti sepi disini, bahu jalan itu seingatku sudah seperti hutan rimbunnya.
”Kamu tenang ya! Aku akan cari pertolongan!” Aku bisa merasakan ia tidak dengan mudah membopongku, terasa usaha kerasnya menahan sakit. Aku sendiri khawatir padanya, tapi aku tidak dapat melihatnya, entah kenapa dengan mata ini. Perlahan ketajaman inderaku memudar, aku sudah terlalu lelah untuk mempertahankan kesadaran.

Aku merasa ada di tempat yang berbeda. Ruangan ini terasa lebih nyaman dan sejuk, terdengar bunyi mesin yang menakutkan seolah menghitung setiap detik waktu hidupku.
”Aku dimana?” Aku bertanya bingung.
“Syukurlah nak! Kamu sudah sadar!” Terdengar suara lembut wanita yang kukenali, ibuku.
Tunggu, aku sudah sadar? Berarti seharusnya aku sudah bisa membuka mataku dan melihat sekeliling, tapi kenapa semua masih gelap?
”Bu, kenapa semuanya gelap? Ada apa dengan mataku?” Aku mulai panik, aku bisa merasa atmosfir menyedihkan di ruangan ini, semua menatap kasihan padaku. “Mataku kenapa? Ligo dimana?”
“Tenang nak! Tenang!” Suara ibu terdengar gemetar.
“Dimana Ligo, dia nggak apa-apa kan bu?” Aku mulai seperti orang linglung, histeris.
Terdengar derap langkah terburu-buru memasuki ruangan. ”Ibu, donor mata yang cocok sudah ditemukan! Maila harus segera dibawa ke ruang operasi !” Suara berat itu terdengar berwibawa dan berintelektualitas tinggi.

Aku tidak sabar menunggu hari ini, perban mataku akan dibuka setelah merasakan beberapa hari menjadi orang buta. Tidak nyaman hidup dalam kegelapan. Aku tidak sabar melihat kondisi Ligo yang seolah terus ditutup-tutupi keluargaku setiap aku menanyakannya. Mungkin ia perlu dukunganku untuk pulih, aku tidak sabar untuk menemuinya. Aku sudah melupakan kekesalanku padanya, yang teringat hanyalah jasanya membopongku sekuat tenaga untuk mencari pertolongan. Aku baru sadar begitu besar cintaku padanya ketika aku nyaris kehilangan dia. Aku akan sangat bersyukur jika aku kembali bisa melihat wajahnya, melupakan masalah yang lalu.
Terdengar derap ringan memasuki kamar rawatku, pasti wanita, aku sudah bisa menggunakan instingku. Disusul derap langkah mantap lelaki paruh baya.
“Maila, kamu sudah siap?” Tanya suara berat yang berwibawa.
“Dokter, jadi mau buka sekarang?” Aku memastikan. ”Aku udah nunggu-nunggu!”
Perlahan gelungan perbanku dibuka, selapis, dua lapis, setelah kepalaku terasa ringan bebas dari perban aku disuruh membuka mata perlahan.
Aku mulai melihat samar-samar, semakin lama semakin jelas. Aku bisa belihat seraut wajah ibuku yang menangis terharu.
”Sudah bisa melihat jelas Maila? Apa yang kamu lihat?” Dokter pria itu memastikan.
”Ibu!” Aku tidak antusias untuk menjawab, lebih antusias untuk menghadapi ibuku, tapi sepertinya perkataanku sekaligus jawaban juga. “Ibu aku sudah bisa melihat!” Pekikku kegirangan.
“Syukurlah nak!” Ibuku membekap mulutnya, terharu.
“Ibu aku nggak sabar melihat Ligo! Dia dimana? Dirawat disini juga?” Aku bertanya heboh dan anehnya semua terdiam. ”Ibu, dia ada disini kan?”
Ibu hanya mengangguk, tersenyum paksa. ”Iya, dia ada disini!”
“Dimana dia bu? Aku pingin melihatnya, sebentar nggak apa-apa deh!” Bujukku.
Ibu meminjam cermin genggam yang sejak tadi dibawa suster, lalu diperlihatkannya permukaan cermin yang bulat kepadaku. ”Dia akan selalu ada bersama kamu!”
Dan saat itu aku baru sadar, binar mata bening nan sejuk yang selama ini mempesonaku kini ada di mataku. Saat itulah aku merasa bodoh. ”Nggak mungkin!” Aku syok, terpukul, lemas menyadari kenyataan yang dihadapkan padaku. Kenapa mata ini ada di mataku? Lalu dimana si pemilik mata ini? Ligo yang aku cintai, ia lebih pantas memakai matanya ini. ”Bu, jangan bohong! Ligo dimana? Dia nggak apa-apa kan? ”
“Maaf!” Dokter menyela kepanikanku. “Arligo Maradian, ada sebagian tulang rusuknya yang patah dan menusuk ke lambungnya! Ia sempat sadar dan meminta matanya didonorkan kepadamu, tapi…nyawanya tak terselamatkan!” Jelasnya dengan raut dingin.
“Nggak mung-kin!” Aku menggeleng, air mata menetes, inilah pertama kalinya air mataku begitu mudah menetes bagai gerakan refleks. “Tapi dia sempat membopongku untuk menolongku!”
“Mungkin…karena itulah luka robekannya tambah besar!” Dokter menambahkan dengan sadis.
“Nggak! Dokter bohong kan!” Rasa bersalah menghantamku ke jurang kesedihan yang paling dalam. Aku baru sadar begitu banyak pengorbanannya padaku, bahkan sebelum kecelakaan ini. Aku baru sadar kebaikan hatinya…justru saat aku telah kehilangan dia. Aku meraung histeris, kalap, mencoba kabur untuk melihat jasadnya. Aku rindu wajah tampan itu, senyum jahilnya, mata nakalnya.

Aku menatap nelangsa semua furniture di apartemen Ligo ini. Saksi bisu keakrabanku dengannya. Teringat saat aku berkunjung hanya untuk numpang menggunakan fasilitas apartemennya, berenang, fitness. Saat ia mengerjaiku jahil dan aku mengejarnya ke seantero ruangan ini. Di belakangku, tante Marina, ibunda Ligo seolah menuntunku.
”Kenapa tante mengajak aku ke sini?” Pertahananku mulai runtuh, kesedihan mendalam kembali menyergapku.
”Agar kamu tahu kisah sebenarnya dibalik ‘hari itu‘!” Tante tersenyum lemah. Aku menelengkan kepala, mendapati arti ‘hari itu’ yang disebut tante, hari kejadian kecelakaan itu. Aku menyesalkan pertengkaranku dengan Ligo, justru kenangan buruk yang kutorehkan di akhir waktunya. Tante Marina mengajakku ke ruangan kamar Ligo.
Aku memandangi meja bercermin itu, merasa aneh mendapati kotak make-up besar tersedia diatasnya. Aku mendekati, menyelidiki. Di sebelahnya tergeletak lemas dompet kesayangan Ligo, yang selalu dibawanya. Rasa rindu menjalari tanganku dan memerintahkannya untuk memegangnya, membukanya, dan kudapati tiket resital baletku tersimpan rapi di dalamnya bagai harta berharga. Aku belum mengerti makna semua ini, tapi tante Marina mengajakku ke depan lemarinya dan menyuruhku membukanya. Ketika kubuka, aku terkejut mendapati sebuah kostum balet yang sangat indah tergantung cantik, kostum terindah yang pernah aku lihat. Dadaku sesak, ternyata Ligo sama sekali tidak egois.
“Ligo sudah sering cerita ke tante tentang ketidaksukaannya dengan kesibukan baletmu. Tante sudah coba menasihatinya agar memandang lebih bijak!” Tante Marina mulai bercerita. ”Kamu tahu apa alasannya tidak suka melihat kamu di resital balet?” Tante Marina membelai rambutku, aku menggeleng pedih. ”Ia pernah kan sekali ke resital baletmu, dan ia dikagetkan dengan penampilanmu yang berubah luar biasa cantik. Ia benci mendapati penampilan itu bukan khusus dipersembahkan untuknya. Ia bercerita seolah kamu tiba-tiba menjelma menjadi peri yang memancarkan cahaya kemilau di atas panggung bersama para pemuda-pemuda dengan tampilan yang tak kalah cemerlang dan ia merasa bagai pungguk merindukan bulan. Kamu seolah hanya menjadi makhluk khayalan dan ia hanyalah satu dari sekian banyak penonton yang tidak dapat menggapaimu di panggung, hanya bisa duduk menontonmu. Melihatmu bersenang senang dalam cerita khayalan di panggung dengan tampilanmu yang memikat dan ia bukan apa-apa, melihatmu menjadi bintang dan membuatnya merasa tidak bisa menggapaimu, ia merasa bagai di dua dunia yang berbeda!“ Tante Marina tersenyum pedih, matanya berkaca-kaca. “Anak itu memang manis kalau sedang cemburu!“ Aku tidak tahan lagi, tidak menyangka alasan ketidaksukaannya itu sangatlah manis. Aku rindu wajah cemburunya, cemberut ngambeknya. “Tapi akhir-akhir ini dia berhasil tante buat menyesal ! Dia berjanji akan meminta maaf padamu dan seperti biasa, memberi kejutan manis khasnya. Bahkan katanya ia sudah belajar menahan diri untuk tidak menonjok pria yang menjadi pasanganmu di panggung!“ Tante Marina terkekeh sedih. “Ia berencana membawamu kesini hari itu untuk mengungkapkan penyesalannya, dan ini semua ia persiapkan…agar kamu bisa berdandan disini dan berangkat ke lokasi bersamanya. Ia ingin mengamati proses metamorfosamu menjadi peri yang cantik disini, agar ia bisa menjadi orang pertama yang melihat perubahanmu itu, setidaknya ia ingin merasa kamu berdandan menjadi cantik untuknya, bukan untuk para penonton.“
Aku membekap mulut, tangisanku bertambah kencang. Pandanganku sampai buram karena mataku digenai air mata. Aku lupa kebiasaan manisnya ini, aku ternyata tidak begitu mengenalnya, tidak ingat kebiasaannya. Padahal sudah sejak lama aku mengenalnya, ia memang suka memberi kejutan-kejutan kecil, aku teringat lagi masa lalu kami. Saat kami kelas 5 SD dan belum mengenal arti cinta yang sebenarnya.

Aku mengenakan seragam SDku dan naik sepeda Ligo, saat itu kami dalam perjalanan ke sekolah. Aku melihat toko roti langgananku, aku tertarik untuk berkunjung nantinya.
“Pulang nanti aku mau beli kue-kue disana ah! Kayaknya enak!“ Gumamku polos.
“Apa? Jangan! Kamu nggak boleh makan kue dulu!“ Larang Ligo keras.
Aku tersentak, “Kenapa?“ Tanyaku bingung.
“Nanti kamu tambah gendut loh, aku nggak suka!“ Cemberutnya lucu. “Lagipula aku dengar sekarang kue banyak mengandung bahan berbahaya, hati-hati loh!“ Bujuk Ligo asal.
“Emang iya ya?“ Aku yang polos mencoba mempercayainya.
Hari itu aku menahan diri untuk tidak makan kue yang dijual di sekolah. Ligo juga seolah menahanku untuk tidak membeli dan memakan kue di kantin. Tapi ketika pulang sekolah aku sudah tidak tahan. Semakin aku coba untuk menahan, justru membuatku semakin teringat dan pingin. Aku memutuskan pulang sekolah sendiri untuk menghindari pantauan Ligo. Aku sudah hampir memasuki toko roti yang tadi pagi kulewati ketika seseorang menarik tanganku.
“Kamu mau ngapain kesini?” Tanyanya, ternyata itu Ligo.
“Aku udah nggak tahan Ligo, aku pingin beli kue!” Keluhku.
“Nggak boleh!” Larangnya galak, “Sini kamu ikut aku!” Paksanya sambil menyeretku ke sepeda.

“Waaah!” Aku terkesima melihat meja yang dipenuhi berbagai kue yang terlihat enak. Ternyata ia mengantarku ke rumahnya, tepat disaat ibunya memasak berbagai jenis kue.
“TARAAAA! Nih kamu bisa puas-puasin makan kue disini! Kamu pasti kangen nyicipin kue kan karena dari tadi nahan diri? Nah berarti kamu bisa bantuin aku habisini kue ini!“ Ia tersenyum tengil, senang melihat keterkejutanku.
Ternyata ia menahanku untuk tidak makan kue agar aku bisa lebih lahap dan nafsu memakan kue buatan ibunya ini. Rasanya jadi lebih menyenangkan memakannya setelah tadi sempat menahan diri, terasa lebih enak juga!
“Kamu nggak boleh banding-bandingin rasa kue ibuku dengan kue buatan orang lain ya! Kue ibuku harus jadi yang paling enak!” Peringat Ligo lucu.
Aku mulai mengerti saat itu. Ia melarangku memakan kue lain sebelumnya agar lidahku tidak membanding-bandingkannya dengan rasa kue lain. Ternyata ia cuma mau aku menghargai kue buatan ibunya lebih dari kue lain, karena seharian aku belum makan kue tentu saja kue itu berhasil jadi kue yang paling enak dilidahku. Ligo begitu mencintai ibunya, begitu menyayangiku, dan punya cara aneh untuk mengekspresikannya. Aku kangen kejutan anehnya itu.

Aku masih terpaku di tanah perkuburan ini. Merasa waktu seolah menghilang. Aku tenggelam dalam dunia tak berdasar ketika menyadari aku tidak bisa lagi menjumpai tatapan mata bening nan jahil itu. Aku ingin melihat mata indah yang bersinar nakal itu.
“Seperti biasa, kamu terlalu mendramatisir keadaan deh! Aku masih disini kok, nggak kemana-mana!“ Aku terkejut mendengar suara bernada tengil yang kukenali itu.
“Ligo?“ Gumamku terkejut menjumpainya di sebelahku. “Kamu kenapa disini? Bukannya kamu sudah pergi?” Heranku. Aku sangat bahagia dapat kembali melihatnya, bahkan tidak sempat berfikir secara logika. Aku tidak perduli walaupun kejadian ini diluar logika, yang penting aku masih bisa menemuinya sekarang.
“Dibilangin, aku nggak akan pergi kemana-mana!” Ligo tersenyum lembut. “Atau kamu lebih senang kalau aku pergi?” Tawarnya ngambek.
“Kamu janji ya, nggak akan tinggalkan aku lagi?” Aku terlalu takut ia tinggalkan kembali, aku ingin selalu bersamanya. Aku tidak peduli walaupun sosok didepanku ini hanyalah bias permainan cahaya, ilusi mata ataupun jiwa tanpa raga. Yang terpenting aku dapat selalu melihat mata bening nan nakalnya. Aku butuh dia, aku ingin terus bersamanya.
“Iya aku janji!” Suaranya begitu menenangkan. Aku puas bisa terus bersamanya, bahkan aku tak keberatan kalaupun aku sudah mulai gila. Biarkan ia menghantuiku seperti arwah Giselle yang menghantui pangerannya tercinta.

Comments (1) Sep 14 2009

Cinta Langit Untuk Bumi

Posted: under Karya asli nih!.

Jika menurut manusia pemandangan yang terindah ialah lautan, gunung, atau daratan di bumi, semua itu salah.
Yang membuat semua itu tampak indah adalah langit dan sinar darinya
Tak ada yang menyadari, langitlah yang sebenarnya terindah dan membuat bumi nampak indah.
Yang setia melindungi bumi dari terjangan benda angkasa, menenangkannya seolah tiada apa-apa
Walau seringkali keberadaannya terlupakan oleh bumi
Bahkan tersakiti makhluk bumi sekian kali
Namun langit tetap setia mencintai bumi
Mempercantik bumi, melindungi bumi, berkorban demi bumi
Sampai akhir hayat bumi nanti

Comments (0) Sep 06 2009